4 Orang populer tolak gabung jadi timses Jokowi dan Prabowo

4 Orang populer tolak gabung jadi timses Jokowi dan Prabowo

Merdeka.com - Capres dan Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno telah menyusun tim sukses untuk pemenangan Pilpres 2019. Sejumlah nama telah masuk dalam timses.
Namun, ada sejumlah nama populer yang enggan bergabung dalam tim sukses baik di Prabowo dan Jokowi. Mengapa mereka menolak, berikut alasannya?
Riuh tepuk tangan menggema di ruang utama. Berisi ratusan orang. Pria dan wanita, tua maupun muda. Mayoritas diisi kaum muda dan ibu rumah tangga. Mereka menyambut sang Idola. Bukan idola biasa. Banyak harapan buat mengubah kehidupan mereka akan digantungkan kepadanya. Dia Sandiaga Salahuddin Uno, calon wakil presiden dari Calon Presiden Prabowo Subianto.
Magnet Sandiaga begitu kentara. Kala sang moderator persilakan dirinya naik ke panggung. Riuh sambutan makin keras. Bagaimana tidak, mereka telah menanti sedari tadi. Menunggu acara diskusi dimulai. Pada Jumat sore itu, diskusi bertajuk tentang digital digelar Relawan Prabowo - Sandi Digital Team (Pride) di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan, sekitar rumah dinas para menteri.
Acara dipandu presenter Ramzi dan aktris Jihan Fahira. Diskusi berlangsung interaktif. Nyaris tak berjarak antar peserta dengan Sandiaga. Nuansa diskusi juga menarik. Kaum emak-emak bercampur dengan milenial. Sesuai target Sandiaga. Di mana dia mengincar pemilih muda dan para emak-emak. Itu terlihat dari moderator diskusi sore itu. Masih muda. Namanya Eqy Milhas Toriza. Usianya baru 23 tahun.
Muda, cerdas dan santun. Begitu kesan pertama terlihat. Dalam diskusi itu, Eqy seolah jadi magnet baru. Banyak emak-emak meminta foto bareng. Senyum Eqy bikin para emak peserta diskusi gemas.
Eqy merupakan satu di antara milenial di Relawan Pride. Relawan itu fokus urusan siber bertujuan untuk menyerap aspirasi dari publik lewat media sosial. Bukan itu saja, Pride juga bertanggungjawab atas kampanye politik Prabowo-Sandi di dunia maya. Mereka sampai memiliki jargon 'Jempol Untuk Kampanye Positif'.
Sebagai bintang baru dalam diskusi, Eqy mengakui baru beberapa waktu lalu diajak bergabung dengan Relawan Pride. Ajakan itu langsung datang dari Koordinator Pride, Anthony Leong selaku ketua tim siber di mana ketika Pilgub Jakarta 2017 silam juga dipercaya mengawal kampanye digital Anies Baswedan-Sandiaga.
Dunia politik bukan hal baru bagi Eqy. Kemampuan berpolitik juga turun dari ayahnya, seorang politisi Partai Keadilan Bangsa (PKB). Dalam diri Eqy mengalir pula darah keluarga besar Nahdliyin, alias warga Nahdlatul Ulama (NU). Walau dapat ilmu politik dari sang ayah, dia punya pilihan sendiri di Pilpres 2019 ini. Memilih berseberangan. Di mana PKB saat ini menjadi pengusung Joko Widodo-Ma'ruf Amin.
Pilihan Eqy bermula di tahun 2009. Itu pertama kali dia mengenal sosok Prabowo Subianto. Kala itu, Prabowo mencalonkan diri sebagai cawapres mendampingi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sosok gagah dan wibawa. Begitu kesan didapat Eqy melihat sosok Prabowo. Dari situ juga membuatnya terpikat untuk pertama kali. Seiring berjalannya waktu, dia melihat Prabowo sosok negarawan. Sekaligus tokoh nasional mementingkan masyarakat dari hal apapun.
Sikap Prabowo sebagai tokoh nasional itu dirasakan betul Eqy ketika Pilgub Jakarta. Di mana Prabowo mengusung Anies Baswedan sebagai cagub DKI Jakarta. Padahal pada pilpres 2014, Anies adalah juru bicara lawan politik lantaran menjadi juru bicara pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.
Eqy punya pengalaman lain akhirnya bisa mengidolakan Prabowo sebagai tokoh nasional. Ketika itu dirinya tengah mondok di pesantren. Akses internet masih terbatas. Sehingga banyak anak pesantren belajar langsung dari buku. Dia tak ingat judul buku pertama dibacanya. Dari situ dirinya malah jatuh hati kepada mantan Danjen Kopassus tersebut. "Dulu belum pakai sosial media, jadi semua tentang Pak Prabowo dari buku atau televisi," kata Eqy saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat pekan lalu.
Memiliki jiwa sosial tinggi mendorong Eqy terjun ke dunia politik. Dia sadar, bila sendiri tak banyak orang bisa dibantu. Hanya segelintir saja. Sementara lewat kebijakan pemerintah, bantuan dapat dirasakan banyak pihak. Maka itu tahun 2014 Eqy memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Memilih masuk Tunas Indonesia Raya (Tidar) cabang Depok. Dari situ Eqy nyemplung di politik. Tidar sendiri merupakan salah satu organisasi sayap Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Partai besutan Prabowo, sosok idola Eqy.
Bergabungnya Eqy tak terlepas dari campur tangan sang kakak. Diskusi politik di rumah kerap dilakukan. Pembahasannya pun beragam. Kedua orangtuanya tak pernah melarang. Atau memaksa pilihan partai politik. Meski berbeda pandangan politik, masing-masing anggota keluarga sepakat untuk tidak saling memandang rendah pilihan politik. Tak jarang perbedaan pandangan politik ini justru menguntungkan satu sama lain. Berdiskusi, adu pendapat tanpa rasa benci. Dari situ Eqy justru merasa bisa saling memahami.
Tumbuhnya milenial di Indonesia juga dianggap bonus demografi. Mereka sebagai generasi produktif justru menjadi harapan keadaan bangsa di masa depan. Menjadi lebih baik maupun buruk. Pilihan itu berada di tangan kaum milenial saat ini.
Indonesia diprediksi akan mengalami puncak bonus demografi pada 2030 mendatang. Membludaknya tenaga kerja produktif seharusnya menjadi peluang emas guna menggenjot roda ekonomi. Sehingga sudah sepantasnya jika ke depan negeri ini menjadi lebih baik lantaran makin banyaknya generasi produktif.
Para milenial dalam politik juga menjadi rebutan. Apalagi dalam tahun politik seperti ini. Bukan hanya jadi rebutan Prabowo-Sandiaga. Kubu Jokowi-Ma'ruf Amin juga demikian. Banyak pula kaum muda masih kepincut Jokowi. Salah satunya Arief Budiman, milenial asal Kabupaten Bogor. Usianya sebaya Eqy, 23 tahun. Selain masih berstatus mahasiswa di kampus swasta, Arief tengah menjalankan sejumlah usaha rintisannya.
Arief mengaku fans fanatik Presiden Jokowi. Nama Jokowi sudah akrab di telinganya sejak tahun 2012. Saat memenangkan Pilgub DKI bersama pasangannya Basuki T Purnama alias Ahok. Berbagai media massa banyak memberitakan prestasi Jokowi saat menjadi Wali Kota Solo. Lalu dia melihat berbagai perubahan signifikan di Jakarta saat Jokowi menjadi Gubernur Jakarta kala itu.
Barulah di tahun 2014 dia tertarik dengan dunia politik. Ketertarikannya diungkapkan dengan bergabung menjadi relawan Pro Jokowi (Projo). Barisan relawan siap memenangkan Jokowi dan JK pada Pilpres 2014 lalu.
Saat itu Arief sengaja datang ke acara Projo di Bogor. Dia langsung mendatangi stand pendaftaran relawan. Lalu membangun komunikasi dan mulai berinteraksi dengan sesama relawan pendukung Jokowi. "Saya sengaja datang sendiri karena mau tahu, pas di sana langsung daftar jadi relawan Projo," cerita Arief akhir pekan lalu kepada merdeka.com.
Bergabung dengan Projo, usianya baru 19 tahun. Bila teman sebayanya sibuk urusan cinta, Arief malah keluar dari zona nyaman. Politik mungkin zona paling dihindari banyak kawannya kala itu. Namun, itu tak membuatnya surut. Justru makin bersemangat. Mengambil posisi memilih aktif dalam dunia politik.
Menurutnya sudah waktunya anak muda melek politik. Sebab, sekalipun menghindar dari politik praktis, dalam kehidupannya akan tetap bersinggungan. Sikap apatis, lanjut dia, tidak akan membawa perubahan. Dari lubuk hatinya, dia ingin pemerintah mendengar aspirasinya. Milenial tak banyak menuntu. Mereka hanya menginginkan politisi membuktikan sejuta janji kerap diumbar.
Seperti Jokowi, kata Arief. Calon presiden harus diakui masih memenuhi janjinya saat kampanye empat tahun silam. Belum semua direalisasi. Walau begitu, dia tetap optimis. Sebab dia merasakan banyak capaian ketika Jokowi menjabat sebagai pemimpin daerah. "Ternyata yang dilakukan Jokowi bukan gembar gembor saja. Saya sudah melihat prestasinya sejak jadi gubernur dan wali kota," ungkap Arief.